Jakarta (ANTARA) - Pasien diabetes tetap diperbolehkan mengonsumsi susu, tetapi perlu memperhatikan jenis, jumlah, serta kandungan gula di dalamnya agar kadar gula darah tetap terkontrol.
Susu mengandung sejumlah nutrisi penting seperti protein, kalsium, vitamin, dan mineral yang dapat menjadi bagian dari pola makan sehat bagi penderita diabetes. Namun, kandungan karbohidrat terutama laktosa dalam susu tetap perlu diperhitungkan karena dapat memengaruhi kadar glukosa darah.
Menurut American Diabetes Association (ADA), penderita diabetes tidak harus menghindari seluruh makanan yang mengandung karbohidrat. Hal yang lebih penting adalah mengatur jumlah karbohidrat yang dikonsumsi serta memilih sumber karbohidrat yang lebih berkualitas, termasuk produk susu rendah lemak dalam pola makan seimbang.
Baca juga: Konsumsi produk susu bisa kurangi risiko diabetes
Tidak semua susu memiliki kandungan yang sama. Pasien diabetes sebaiknya memilih susu dengan kandungan gula tambahan yang rendah dan tetap memperhatikan porsi konsumsi.
Beberapa pilihan yang dapat dipertimbangkan antara lain:
1. Susu rendah lemak atau tanpa lemak
Susu rendah lemak dapat menjadi pilihan karena memiliki kandungan lemak jenuh yang lebih rendah dibanding susu tinggi lemak. Selain itu, susu tetap menyediakan protein dan kalsium yang dibutuhkan tubuh.
2. Susu tanpa tambahan gula
Penderita diabetes disarankan menghindari susu dengan tambahan gula, seperti minuman susu rasa yang umumnya memiliki kandungan gula lebih tinggi.
Memilih susu tanpa pemanis tambahan dapat membantu mengurangi lonjakan gula darah.
3. Susu khusus diabetes
Beberapa produk susu diformulasikan khusus untuk penderita diabetes dengan kandungan karbohidrat yang disesuaikan. Namun, penggunaannya tetap perlu memperhatikan aturan konsumsi dan kondisi kesehatan masing-masing.
4. Susu nabati tanpa gula
Susu berbahan dasar kedelai atau kacang tertentu tanpa tambahan gula juga dapat menjadi alternatif. Namun, kandungan nutrisi setiap produk berbeda sehingga label gizi tetap perlu diperiksa.
Baca juga: Bila susu tak terbeli, ini cara siasati nutrisi anak
Baca juga: Susu saat sarapan bagus untuk penderita diabetes
Susu mengandung laktosa, yaitu jenis gula alami yang termasuk karbohidrat. Karbohidrat dapat meningkatkan kadar gula darah sehingga jumlah yang dikonsumsi perlu disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing orang.
Kementerian Kesehatan RI menjelaskan bahwa pengaturan pola makan menjadi bagian penting dalam pengelolaan diabetes. Pasien diabetes perlu memperhatikan jumlah karbohidrat, membatasi gula sederhana, serta memilih makanan bergizi seimbang.
Agar konsumsi susu tetap aman, berikut beberapa hal yang dapat diperhatikan:
- Periksa label nutrisi sebelum membeli susu untuk mengetahui kandungan gula dan karbohidrat.
- Pilih susu tanpa gula tambahan atau rendah gula.
- Batasi jumlah konsumsi sesuai kebutuhan tubuh.
- Jangan menambahkan gula, sirup, atau pemanis berlebihan ke dalam susu.
- Konsultasikan dengan dokter atau ahli gizi, terutama bagi pasien yang memiliki kadar gula darah sulit dikontrol.
Perhatikan kondisi masing-masing pasien
Setiap penderita diabetes memiliki kondisi berbeda, sehingga kebutuhan makanan dan minuman dapat berbeda pula. Faktor seperti kadar gula darah, berat badan, aktivitas fisik, serta obat yang dikonsumsi dapat memengaruhi aturan pola makan.
Mayo Clinic menyebut pengaturan pola makan diabetes bertujuan membantu mengontrol gula darah, berat badan, serta risiko komplikasi dengan mengatur jumlah makanan dan memilih sumber nutrisi yang tepat.
Dengan pemilihan jenis susu yang tepat dan konsumsi dalam jumlah wajar, pasien diabetes tetap dapat menikmati susu sebagai bagian dari pola makan sehat tanpa harus mengabaikan pengendalian gula darah.
Baca juga: Jenis susu yang cocok untuk pengidap diabetes
Baca juga: Konsumsi kental manis dan tantangan edukasi gizi di Indonesia
Baca juga: Dokter: Pemberian kental manis pada anak bisa ganggu preferensi rasa
Pewarta: M. Hilal Eka Saputra Harahap
Editor: Maria Rosari Dwi Putri
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.