Jakarta (ANTARA) - Ketika membayangkan orangutan Kalimantan, mungkin yang terlintas adalah satwa berbulu cokelat kemerahan yang bergelantungan di pepohonan. Namun, kehidupan orangutan di hutan sebenarnya jauh lebih kompleks dari sekadar berpindah dari satu pohon ke pohon lainnya.
Di balik karakternya yang terlihat tenang, orangutan menjalani rutinitas yang cukup sibuk. Mereka harus mencari makanan, berpindah dari satu tempat ke tempat lain, membuat sarang, merawat anak, sekaligus menghindari berbagai ancaman yang ada di habitatnya.
Orangutan Kalimantan atau Pongo pygmaeus merupakan salah satu satwa endemik Pulau Kalimantan. Habitatnya tersebar di sejumlah kawasan hutan di Kalimantan, terutama hutan tropis dataran rendah dan hutan rawa, termasuk ekosistem gambut.
Sayangnya, habitat tersebut terus menghadapi berbagai tekanan. Perubahan penggunaan lahan, fragmentasi hutan, hingga kebakaran hutan dan lahan dapat membuat ruang hidup orangutan semakin terbatas.
Lantas, seperti apa sebenarnya kehidupan orangutan ketika mereka berada di dalam hutan?
Sebagian besar waktu dihabiskan di atas pohon
Orangutan dikenal sebagai satwa arboreal, yaitu hewan yang banyak melakukan aktivitas di atas pohon.
Pepohonan menjadi bagian penting dalam kehidupan mereka. Dari atas pohon, orangutan dapat mencari makanan, berpindah tempat, beristirahat, hingga membuat sarang.
Kehidupan di atas pohon juga membuat orangutan memiliki cara bergerak yang berbeda dari banyak satwa lainnya. Dengan lengan panjang dan tubuh yang kuat, mereka dapat berpindah dari satu dahan ke dahan lain untuk menjangkau sumber makanan atau lokasi yang lebih aman.
Baca juga: BKSDA Kaltim selamatkan orangutan remaja dari area perkebunan Kutim
Namun, bukan berarti orangutan sama sekali tidak turun ke tanah. Dalam kondisi tertentu, mereka juga dapat berada di permukaan tanah, terutama ketika mencari makanan atau berpindah di kawasan habitat tertentu.
Karena itu, keberadaan pohon-pohon besar dan hutan yang saling terhubung sangat penting bagi kelangsungan hidup mereka.
Makanan orangutan cukup beragam
Salah satu aktivitas utama orangutan sepanjang hari adalah mencari makanan.
Buah menjadi salah satu makanan yang penting bagi orangutan. Namun, pola makan mereka tidak hanya bergantung pada buah. Orangutan juga dapat mengonsumsi daun, kulit kayu, bunga, serta bagian tumbuhan lainnya.
Ketersediaan makanan sangat dipengaruhi oleh kondisi hutan dan musim. Ketika buah sedang melimpah, orangutan dapat menghabiskan banyak waktu untuk mencari dan memakannya.
Sebaliknya, ketika sumber makanan tertentu sulit ditemukan, mereka harus bergerak lebih jauh untuk mencari pilihan makanan lainnya.
Sebuah pengamatan Yayasan Borneo Orangutan Survival (BOS) terhadap orangutan yang telah dilepasliarkan menunjukkan bahwa aktivitas makan dapat mengambil porsi besar dari waktu aktif orangutan. Dalam pengamatan terhadap orangutan bernama Alba di Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya, misalnya, rata-rata 56,5 persen waktu aktifnya digunakan untuk makan.
Artinya, hutan yang sehat bukan hanya menyediakan tempat tinggal, tetapi juga "dapur" alami bagi orangutan.
Baca juga: Sebelum mati, Orangutan Sempurna ditemukan kritis di kebun sawit
Setiap hari ada aktivitas mencari makanan
Kehidupan orangutan tidak selalu berlangsung di satu tempat.
Mereka perlu berpindah mengikuti ketersediaan makanan. Jika pohon yang sedang berbuah berada cukup jauh, orangutan akan bergerak menuju lokasi tersebut.
Pergerakan ini membuat luas dan kondisi habitat menjadi penting. Hutan yang terfragmentasi atau terpisah-pisah dapat membuat perjalanan orangutan menjadi lebih sulit.
Menurut Yayasan BOS, orangutan Kalimantan saat ini hidup dalam populasi yang terfragmentasi dan hanya ditemukan di kawasan hutan tertentu. Aktivitas manusia dan pembangunan menjadi salah satu faktor yang membuat habitat alami mereka semakin terdesak.
Dengan kata lain, bagi orangutan, memiliki hutan yang cukup luas saja belum tentu cukup. Mereka juga membutuhkan hutan yang masih terhubung sehingga dapat bergerak dan mencari sumber makanan.
Orangutan membuat sarang untuk tidur
Menjelang waktu beristirahat, orangutan memiliki aktivitas menarik yang mungkin tidak dilakukan setiap hari oleh manusia, yakni membuat sarang.
Sarang biasanya dibuat di atas pohon menggunakan ranting dan daun. Bentuknya seperti tempat tidur sederhana yang dapat digunakan untuk beristirahat.
Lokasi sarang juga tidak dipilih secara sembarangan. Ketinggian pohon, kondisi cabang, serta lingkungan sekitar menjadi bagian dari pertimbangan orangutan.
Pengamatan Yayasan BOS terhadap induk orangutan Manggo dan anaknya, Melki, di Hutan Lindung Bukit Batikap, Kalimantan Tengah, menemukan sarang mereka berada sekitar 16-20 meter dari permukaan tanah. Melki yang masih muda juga masih tidur bersama induknya.
Hal tersebut memperlihatkan bahwa sarang bukan hanya tempat tidur, tetapi menjadi bagian dari kehidupan keluarga orangutan.
Baca juga: BKSDA dan YIARI kembali evakuasi Orangutan akibat asap Karhutla
Anak orangutan belajar dari induknya
Bagi anak orangutan, kehidupan di hutan juga merupakan proses belajar yang panjang.
Anak orangutan tidak langsung mengetahui semua keterampilan yang dibutuhkan untuk hidup mandiri. Mereka belajar dari induknya, mulai dari mengenali makanan, berpindah di pepohonan, mencari tempat yang aman, hingga membuat sarang.
Hubungan antara induk dan anak menjadi sangat penting selama masa pertumbuhan.
Pengamatan terhadap Manggo dan Melki menunjukkan bagaimana anak orangutan masih bergantung pada induknya sambil mempelajari berbagai keterampilan yang nantinya diperlukan untuk bertahan hidup sendiri.
Proses tersebut membuat keberadaan induk dan habitat yang aman menjadi sangat penting. Jika habitat terganggu, proses belajar anak orangutan juga dapat ikut terdampak.
Orangutan bukan satwa yang selalu hidup berkelompok
Berbeda dengan beberapa jenis primata yang sering terlihat dalam kelompok besar, orangutan memiliki pola kehidupan yang relatif lebih soliter.
Orangutan dewasa umumnya lebih sering menjalani aktivitasnya sendiri. Pertemuan dengan individu lain dapat terjadi, terutama dalam kondisi tertentu seperti ketika terdapat sumber makanan yang melimpah atau dalam hubungan antara induk dan anak.
Karena itu, menemukan satu orangutan di dalam hutan bukan berarti hanya ada satu individu yang hidup di kawasan tersebut.
Mereka bisa saja memiliki wilayah jelajah masing-masing dan menggunakan kawasan hutan yang sama pada waktu berbeda.
Baca juga: Anggota DPR: Perlindungan satwa harus jadi bagian penanganan karhutla
Hutan menjadi "rumah" sekaligus sumber kehidupan
Bagi orangutan, hutan memiliki banyak fungsi sekaligus.
Hutan menyediakan makanan, tempat tidur, lokasi berlindung, serta ruang untuk bergerak. Berbagai jenis pohon dan tumbuhan yang tumbuh di dalamnya juga membentuk ekosistem yang mendukung kehidupan banyak satwa lainnya.
Yayasan BOS mencatat orangutan Kalimantan dapat ditemukan di berbagai jenis habitat, mulai dari hutan mangrove hingga hutan karst, meskipun mereka paling banyak ditemukan di hutan tropis dataran rendah. Hutan dipterokarp dan hutan rawa juga menjadi habitat penting bagi satwa ini.
Karena itu, ketika hutan rusak, yang hilang bukan hanya sekumpulan pohon.
Bagi orangutan, kerusakan hutan berarti berkurangnya tempat mencari makan, beristirahat, berkembang biak, dan membesarkan anak.
Ketika kehidupan di hutan mulai terganggu
Kehidupan orangutan yang bergantung pada hutan membuat mereka sangat rentan terhadap perubahan lingkungan.
Kebakaran hutan dan lahan, misalnya, dapat menghancurkan vegetasi sekaligus membuat udara dipenuhi asap. Sementara itu, pembukaan hutan dan fragmentasi habitat dapat mengurangi ruang yang dapat digunakan orangutan untuk bergerak.
Kondisi tersebut bahkan dapat mendorong orangutan keluar dari habitat alaminya dan mendekati kawasan perkebunan atau permukiman untuk mencari makanan.
Inilah yang membuat persoalan konservasi orangutan tidak bisa hanya dilihat dari jumlah satwa yang berhasil diselamatkan. Kondisi rumah mereka juga harus menjadi perhatian.
Yayasan BOS menyebut perlindungan orangutan perlu berjalan bersama dengan perlindungan dan pemulihan ekosistem hutan. Upaya tersebut antara lain dilakukan melalui pencegahan kebakaran, patroli, mitigasi konflik manusia-orangutan, serta rehabilitasi kawasan hutan yang telah rusak.
Baca juga: Bukan hanya manusia, ini dampak asap kebakaran hutan bagi orangutan
Menjaga orangutan berarti menjaga hutan
Kehidupan orangutan di Kalimantan sebenarnya memberikan gambaran sederhana tentang betapa pentingnya sebuah hutan bagi satwa liar.
Di sana, setiap pohon memiliki fungsi. Ada yang menyediakan buah, menjadi tempat berpindah, menjadi lokasi beristirahat, hingga menjadi tempat seekor induk membesarkan anaknya.
Karena itu, menjaga orangutan tidak cukup hanya dengan menyelamatkan individu yang terluka atau memindahkan satwa dari kawasan berbahaya.
Habitat yang aman tetap menjadi kebutuhan utama.
Kisah orangutan yang berhasil hidup kembali di hutan menunjukkan bahwa ketika habitat tersedia dan kondisinya mendukung, mereka dapat kembali menjalani kehidupan alaminya: mencari makanan, berpindah dari satu pohon ke pohon lain, membuat sarang, dan membesarkan generasi berikutnya.
Pada akhirnya, kehidupan orangutan di hutan Kalimantan bukanlah kehidupan yang sederhana. Setiap hari mereka harus membaca kondisi hutan, mencari makanan, menentukan tempat beristirahat, dan menjaga anak agar mampu bertahan hidup.
Dan semua itu bergantung pada satu hal yang sama: hutan yang masih mampu menjadi rumah.
Selama hutan tetap terjaga, orangutan masih memiliki kesempatan untuk menjalani kehidupannya sebagaimana mestinya, jauh dari kepungan asap, kehilangan habitat, dan konflik dengan manusia.
Baca juga: Kemenhut perkuat call center penyelamatan satwa terdampak karhutla
Baca juga: Kemenhut perkuat Satgas Penyelamatan Satwa Liar hadapi dampak karhutla
Pewarta: Raihan Fadilah
Editor: Suryanto
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.