CNN Indonesia
Jumat, 18 Sep 2026 12:00 WIB
Jakarta, CNN Indonesia --
Penularan virus Influenza A kini tengah marak terjadi. Anak jadi kelompok yang paling rentan tertular.
"Angka kejadian influenza lebih tinggi terjadi pada anak," ujar dokter spesialis anak konsultan infeksi tropis Profesor Anggraini Alam, dalam media briefing yang digelar Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Jumat (18/9).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berdasarkan data yang dipaparkan, sebanyak 5 persen kasus Influenza A pada anak memerlukan rawat inap. Di antara anak yang memerlukan rawat inap, 80 persen di antaranya merupakan balita berusia kurang dari 2 tahun.
"Anak dua kali lipat [lebih mungkin] mengalami flu yang bergejala [parah] dibandingkan dewasa," tambah Aggraini.
Bukan tanpa sebab, salah satu pasalnya adalah daya tahan tubuh anak yang belum terbentuk sepenuhnya, apalagi pada usia balita. Faktor tinggi badan anak juga disebut berkontribusi.
"Tinggi anak, kan, di bawah orang dewasa. Kita [orang dewasa] bicara, kita bersih, kita batuk, maka mereka jadi mudah tertular," ujarnya.
Pilihan Redaksi
- Gaduh Kasus Influenza A, Anak Jadi yang Paling Banyak Terinfeksi
- Kemenkes Ungkap 3 Subtipe Influenza Paling Banyak Ditemukan di RI
- Kasusnya Sedang Meningkat, Apa Itu Influenza A?
Menitipkan anak di day care jadi faktor risiko
Selain usia balita, beberapa kondisi lain juga meningkatkan risiko penularan. Misalnya, anak yang sehari-harinya dititipkan di day care.
"Orang tua sekarang sibuk, [menitipkan anak] ke day care. Ruangannya tertutup, ramai," ujar Anggraini.
Kondisi ruang day care yang tertutup dan padat memungkinkan virus terus berputar di satu ruang yang sama. Jika ada salah satu anak yang terinfeksi, bukan tak mungkin anak lainnya akan ikut tertular dengan mudah.
Belum lagi jika ruangan day care menggunakan AC dengan ventilasi yang tertutup. Penggunaan AC, menurut Anggraini, memang bisa memberikan rasa nyaman. Tapi, di tengah penularan Influenza A yang tinggi seperti sekarang, penggunaan AC justru membuat virus bisa bertahan dan menulari siapa pun yang ada di dalamnya.
Anggraini mengingatkan agar tidak menganggap sepele Influenza A. Ia mengatakan, Influenza A lebih berat dan mudah menular dibandingkan selesma atau yang kita anggap sebagai 'flu biasa'.
"Flu lebih berat dari common cold [selesma]. Begitu dia [virus] masuk, dia akan mengikuti RNA genetik kita, sehingga dia memperbanyak dirinya di dalam tubuh sampai sel kita rusak," ujarnya menjelaskan.
Saat jumlahnya semakin banyak, virus akan masuk ke jaringan pernapasan dan menyebabkan peradangan.
"Peradangan ini bisa pulih berminggu-minggu," ujarnya.
Untuk itu, orang tua diimbau agar memahami gejala Influenza A pada anak. Demam, sakit kepala, dan nyeri persendian jadi gejala utama infeksi Influenza A.
Selain itu, orang tua juga bisa memantau gejala lain, seperti berikut:
- batuk kering;
- hidung tersumbat, bersin, meler;
- mual, muntah.
"Walaupun anak belum bisa bicara menyampaikan keluhan, orang tua bisa melihat aktivitas dan kebiasaan anak," ujar Anggraini.
Jika anak mulai sulit terbangun, enggan untuk makan, atau bahkan mengalami kejang, segera bawa ke rumah sakit.
(asr)