AKURAT.CO Anggapan bahwa sektor pertanian identik dengan pekerjaan berpenghasilan rendah dan kurang diminati generasi muda, Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman justru menyampaikan pandangan berbeda.
Sebab Menurut Amran, sektor pertanian memiliki peluang besar melahirkan pengusaha berskala besar hingga konglomerat baru di Indonesia.
Pesan tersebut disampaikan Amran saat menghadiri Pelantikan dan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) I Pengusaha Tani Indonesia (PTI) di Auditorium Kementerian Pertanian, Rabu (22/7/2026).
Menurut Amran, persoalan utama yang membuat banyak anak muda enggan terjun ke pertanian bukan terletak pada potensi bisnis sektor tersebut, melainkan cara pandang atau mindset masyarakat yang masih menganggap pertanian sebagai sektor tradisional.
Baca Juga: Amran Bantah Isu Tanah Papua Dibeli Rp100 Ribu per Hektare
"Masalahnya bukan di sektor pertaniannya, tetapi pada mindset kita. Hampir 80 persen konglomerat Indonesia bergerak di sektor berbasis pertanian. Artinya, pertanian adalah sektor yang menjanjikan jika dikelola dengan kerja keras, inovasi, dan keberanian mengambil risiko," kata Amran.
Dirinya menilai bisnis berbasis pangan, perkebunan hingga industri pengolahan hasil pertanian masih menyimpan ruang pertumbuhan yang sangat besar.
Karena itu, generasi muda perlu melihat pertanian sebagai sektor usaha modern yang mampu menciptakan nilai tambah dan keuntungan jangka panjang.
Amran mengatakan transformasi pertanian tidak lagi hanya berbicara mengenai aktivitas budidaya, melainkan juga pemanfaatan teknologi, mekanisasi, digitalisasi hingga pembangunan ekosistem bisnis yang terintegrasi dari hulu hingga hilir.
Tidak hanya itu saja, Kementerian Pertanian mendorong lahirnya semakin banyak pengusaha muda yang mampu mengembangkan usaha pertanian secara profesional dan berbasis inovasi.
"Bangunkan lahan tidur, hidupkan pemuda, hidupkan desa. Jadilah teladan. Kalau pertanian dikelola secara modern dan profesional, saya yakin akan lahir semakin banyak pengusaha besar dari sektor pertanian Indonesia," ujarnya.
Menurut Amran, organisasi Pengusaha Tani Indonesia dapat menjadi salah satu motor lahirnya generasi baru wirausaha pertanian yang mampu mengoptimalkan potensi lahan di berbagai daerah.
Ia mendorong setiap anggota PTI membangun kawasan percontohan berbasis teknologi, memanfaatkan setiap jengkal lahan produktif, sekaligus menjadi penggerak pemberdayaan petani dan anak muda di daerah.
Kementerian Pertanian, lanjut Amran, siap memperkuat kolaborasi melalui pendampingan, pemanfaatan teknologi modern hingga pengembangan kawasan pertanian percontohan guna mempercepat lahirnya pengusaha muda di sektor pangan.
Amran menilai regenerasi pelaku usaha pertanian menjadi salah satu faktor penting dalam meningkatkan produktivitas sekaligus memperkuat daya saing pertanian Indonesia menuju visi Indonesia Emas 2045.
Selain teknologi, Amran menegaskan karakter menjadi modal utama bagi seorang pengusaha untuk bertahan dalam dunia bisnis.
Menurut dia, keberanian menghadapi kegagalan, disiplin, kerja keras, dan konsistensi merupakan kualitas yang membedakan pengusaha sukses dengan mereka yang berhenti di tengah jalan.
"Kalau kehilangan uang, Anda tidak kehilangan apa-apa. Kalau kehilangan semangat, Anda kehilangan sesuatu. Tetapi kalau kehilangan karakter, Anda kehilangan segalanya. Karakter itulah yang akan membawa seseorang menjadi pemimpin dan pengusaha yang sukses," katanya.
Tidak hanya itu saja, Amran juga mengingatkan bahwa kerugian merupakan bagian dari proses membangun bisnis. Pengusaha, kata dia, tidak seharusnya takut mengalami kegagalan pada fase awal usaha karena pengalaman tersebut justru menjadi bekal untuk membangun bisnis yang lebih besar.
"Kalau mau menjadi pengusaha, yang Anda tunggu adalah rugi dulu. Minimal lima sampai sepuluh tahun. Begitu untung, hasilnya bisa berlipat. Siap rugi berarti siap jadi konglomerat," ujar Amran.