Liputan6.com, Jakarta - Pemerintah Amerika Serikat (AS) akan investasi US$ 3 miliar atau Rp 53,40 triliun (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 17.800) dalam proyek mineral dan baterai. Hal ini sebagai bagian penting dari upaya meningkatkan produksi dalam negeri dan meningkatkan keamanan nasional dan kebijakan industri.
Demikian disampaikan Presiden AS Donald Trump kepada lebih dari 200 eksekutif pertambangan, pendidik, investor dan sesama politikus saat pertemuan meja bundar di Departemen Luar Negeri pada Jumat, 7 Agustus 2026 dikutip dari CNBC, Sabtu (8/8/2026). Langkah ini dilakukan sebagai upaya mendukung industri pertambangan yang menurut Trump belum mendapatkan cukup perhatian dari Washington dalam beberapa tahun terakhir.
“Kami mengklaim kembali posisi Amerika Serikat yang layak sebagai negara adidaya mineral dunia,” ujar Trump.
Dia mengumumkan sejumlah investasi dalam pidatonya, termasuk pinjaman bersyarat sebesar US$ 1,4 miliar atau Rp 24,92 triliun dari Kantor Modal Strategis Departemen Pertahanan atau the Defense Department’s Office of Strategic Capital untuk Sila Nanotechnologies (OSC) , yang membuat suku cadang baterai litium-ion.
OSC juga memberikan pinjaman bersyarat sebesar US$ 400 juta atau Rp 7,12 triliun kepada penambang skandium Sunrise Energy Metals SRL.AX dan pinjaman bersyarat sebesar US$ 150 juta atau Rp 2,67 triliun kepada pengembang magnet Niron Magnetics.
Bank Ekspor-Impor AS akan meminjamkan US$ 58 juta atau Rp 1,03 triliun kepada Westwater Resources, Global Advanced Metals, dan 5E Advanced Materials, yang dilaporkan Reuters sebelumnya pada Jumat.
"Mineral penting adalah bahan mentah kekuatan Amerika yang menggerakkan segalanya mulai dari persenjataan canggih hingga mobil, dan kami ingin produk-produk penting ini ditambang, dimurnikan, dan dibuat di sini, di AS,” kata Trump.
Menteri Dalam Negeri Doug Burgum, Menteri Luar Negeri Marco Rubio, Menteri Perdagangan Howard Lutnick dan pejabat Dewan Keamanan Nasional David Copley menghadiri pengumuman tersebut.