Alokasi hidup cukup dalam tarikan "Saparan Tumpeng Jongko Ingkung Sewu"
Jumat, 31 Juli 2026 12:42 WIB
Sejumlah warga mengusung gunungan hasil bumi dalam kirab tradisi "Saparan Tumpeng Jongko Ingkung Sewu" di kawasan Gunung Andong Dusun Mantran Wetan, Desa Girirejo, Kecamatan Ngablak, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, Rabu (29/7/2026). ANTARA/Hari Atmoko
Magelang (ANTARA) - Dengan bisik-bisik, seorang tokoh Komunitas Lima Gunung Kabupaten Magelang, budayawan Sutanto Mendut (71) menyampaikan bahwa pelepasan ayam dalam tradisi "Saparan Tumpeng Jongko Ingkung Sewu" warga Gunung Andong, pertanda mereka memperkuat kesadaran pentingnya memelihara ayam.
Warga kawasan Gunung Andong di Dusun Mantran Wetan, Desa Girirejo, Kecamatan Ngablak, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, menggelar tradisi mertidesa yang turun-temurun berdasarkan kalender Jawa jatuh setiap Rabu Pahing Bulan Safar. Umumnya, masyarakat menyebut sebagai "Saparan".
Tahun ini, "Saparan" mereka bertepatan dengan Rabu (29/7), sedangkan rangkaian acara secara luwes tidak hanya sehari. Hal itu bertautan dengan pementasan kesenian dan kemeriahan dusun karena kehadiran sanak keluarga, kerabat, serta relasi warga yang tidak hanya sekampung, namun juga dengan luar dusun.
Rangkaian "Saparan" mereka tahun ini, 29 Juli hingga 1 Agustus 2026, dengan acara wajib kenduri dan pementasan tarian "Jaran Kepang Papat", dilanjutkan pementasan wayang kulit dan sejumlah kesenian tradisional, antara lain Kuda Lumping, Menak Koncer, Warok, Soreng, dan Campursari.
Kenduri dipimpin ulama setempat Muhammad Thohir (57), pergelaran wayang kulit dengan dalang berasal dari Kabupaten Kulonprogo Ki Nanang Hadi Sugito, di halaman rumah kepala dusun, Andoko (60). Ia dua bulan lagi purna sebagai kadus, setelah menjabat 22 tahun.
Pementasan "Jaran Kepang Papat" di halaman rumah warga, Jesaparjo (40), sedangkan pertujukan kesenian di jalan utama dusun. Sebelum hari "Saparan", warga gotong royong membersihkan makam dusun, sebagai penghormatan kepada lelulur dan cikal bakal dusun, Kiai Kotik dan Nyai Kotik.
Tradisi pakem "Saparan" dimulai setelah terdengar bunyi kentongan dari masjid. Warga keluar rumah masing-masing membawa ingkung beserta kelengkapan. Mereka berjalan kaki menuju rumah kadus untuk kenduri dan doa bersama.
Setelah beberapa tahun kelompok kesenian mereka, "Padepokan Andong Jinawi", pimpinan Haji Supadi Haryanto (55), bergabung dengan para seniman petani gunung dalam Komunitas Lima Gunung (Merapi, Merbabu, Andong, Sumbing, dan Menoreh). Warga terkesan memperoleh kesadaran baru makna kehidupan petani dan alam gunung. Pada 2008, mereka mengembangkan inspirasi untuk mengemas "Saparan" tanpa mengubah pakem menjadi "Saparan Tumpeng Jongko Ingkung Sewu".
Pada hari "Saparan", mereka mengawali dengan kirab melewati jalan dusun membawa gunungan hasil bumi bernama "Tumpeng Jongko" (tumpeng pengharapan), sedangkan setiap warga membawa ingkung yang menghadirkan imajinasi "Ingkung Sewu" (seribu ingkung). Mereka berjalan mengikuti rombongan utama kirab yang mengenakan pakaian adat Jawa, menuju rumah kadus.
"Tiyang ndesa, mastani kathah niku sewu (Orang desa menyebut jumlah banyak sebagai seribu), Tumpeng Jongko niku panjangka (tumpeng ini merupakan pengharapan)," kata tokoh pemuda setempat, Giyanto (40).
Tepi jalan utama dusun dipasangi instalasi puluhan ancak berisi tumpeng dan sesaji. Tahun ini, mereka mengusung tiga gunungan raksana berisi hasil bumi sebagai "Tumpeng Jongko" dalam kirab diiringi tabuhan bende dan tembang selawatan. Syukur dan kemeriahan bercampur bagaikan menguar dalam kirab "Saparan Tumpeng Jongko Ingkung Sewu".
Tahun ini, mereka menambah item acara singkat setelah kenduri, berupa pelepasan beberapa ekor ayam di jalan utama dusun, oleh tiga tokoh setempat, Andoko, Muh Thohir, dan Haji Supadi.
Sebelum warga berduyun-duyun meninggalkan halaman rumah kadus dengan iringan tabuhan bende, mereka melepas ayam itu sebagai simbol penguatan kesadaran pentingnya memelihara ayam, terutama karena setiap tahun menjadi sarana wajib membuat ingkung untuk "Saparan".
"Itu bagian dari arti ketercukupan (secara) multidimensional orang desa," ucap Sutanto yang juga pendiri Komunitas Lima Gunung dan belasan tahun pernah menjadi pengajar Program Pascasarjana Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta.
Ketika pidato bermodel dialog dengan warga sebagai pengantar kenduri, ia unggah-ungguh meminta izin warga untuk memantik kalangan kampus meneliti tentang kekayaan desa. Sejumlah mahasiswa hadir dalam acara itu merekam pidatonya.
Di tengah acara, beberapa ibu ditanya Sutanto, mengaku mengeluarkan biaya "Saparan" dengan jumlah sekitar Rp5 juta. Data dusun setempat meliputi tiga rukun tetangga, 163 kepala keluarga atau 481 jiwa dan 125 rumah tinggal. Hampir semua warga hidup dari pertanian sayuran dan hanya tiga orang sebagai pegawai negeri.
Komoditas hortikultura mereka membudidayakan secara tumpang sari, antara lain kobis, kol, cabai, kentang, tomat, sawi putih, sawi cina, dan selada, dengan masa tanam berkisar 3-3,5 bulan. Pada masa lampau, warga juga menanam tembakau, akan tetapi akhir-akhir ini jauh berkurang.
Tentu saja, ada warga mengeluarkan biaya "Saparan" kurang atau lebih dari rata-rata tersebut. Hal itu, terutama tergantung jumlah sanak keluarga dan relasi diundang ke rumah untuk silaturahim dan menyantap jamuan dengan menu utama ingkung, minuman, dan berbagai camilan dalam toples berderet-deret di meja, karpet, atau tikar ruang tamu setiap rumah.
Setiap warga dipastikan tidak cukup hanya menyembelih satu ekor ayam untuk ingkung, pada umumnya 2-4 ekor dengan harga saat ini Rp100 ribu-Rp150 ribu per ekor. Para bakul ayam membaca peluang tradisi tersebut untuk meningkatkan penjualan. Seminggu sebelum hari "Saparan", mereka "jemput bola", berkeliling dusun untuk menjual ayam kepada warga. Untuk keperluan sembako dan makanan lainnya, warga berbelanja ke beberapa pasar sekitar Mantran Wetan, seperti Ngablak, Grabag, dan Salatiga.
Baik Kadus Andoko maupun Haji Supadi, misalnya, masing-masing memperkirakan tamunya 300 jiwa berasal dari berbagai desa-desa tetangga dan beberapa kota sekitar Magelang. Mereka masing-masing dipastikan mengeluarkan biaya lebih dari rata-rata warga.
Kalau coba dikalkulasi secara "kasar", total biaya "Saparan" dusun itu bisa saja menyentuh Rp1 miliar. Angka tersebut alokasi satu kali pelaksanaan tradisi. Sejumlah tradisi lainnya menjadi kalender tahunan dusun mereka, seperti Lebaran dan ziarah bersama ke makam para ulama.
Untuk keperluan bersama-sama "Saparan", warga per RT iuran secara berkala. Tahun ini, setiap warga mengeluarkan Rp400 ribu bersumber dari urunan RT, sedangkan pemerintah desa mulai tahun ini membantu Rp5 juta. Kadus Andoko tidak menyebut sumber lainnya, seperti kelompok pemuda, grup kesenian, atau peguyuban ibu-ibu, untuk biaya "Saparan". Sumber-sumber komunal itu salah satu kekuatan penting lain untuk kecukupan menjalani tradisi.
Melihat "Saparan" hanya dengan menarik dimensi pembiayaan, bisa jadi mengantar kepada jebakan penilaian banal bahwa tradisi itu pemborosan. Bagi Sutanto Mendut, "Saparan" bagian hidup petani gunung yang cukup secara multi dimensional. Secara angka-angka, barangkali memang rumit menghitung ukuran ketercukupan mereka.
Dia bisa memastikan setiap warga dusun merasakan beroleh berkah melimpah melalui jalan tradisinya. Bahkan, pelaksanaan satu kalender tradisi sebagai hasil dari energi berlimpah mereka keluarkan melalui pekerjaan sehari-hari bertani dan serawung dengan sesama, berkah Sang Khalik, restu leluhur, dan penghormatan terhadap semesta.
Perhitungan komoditas sayuran yang ditanam menjadi bagian erat dengan kalkulasi agenda tradisi hendak mereka laksanakan. Dengan lingkungan alam gunung, warga mempunyai logika bercocok tanam berkait dengan restu leluhur dan tentunya kepercayaan kepada Sang Penguasa Cukup.
"Menanam (bertani) jadi bersemangat karena punya tujuan 'Saparan' (misalnya). Begitu juga untuk setelah 'Saparan', warga sudah berhitung tujuannya menanam komoditas," kata Andoko.
Begitu pun dengan menambah item acara "Saparan" berupa pelepasan ayam, kecukupan hidup multi dimensional itu sedang mereka rebakkan.
Simbol pelepasan ayam dalam "Saparan Tumpeng Jongko Ingkung Sewu", agaknya hendak ditanam menjadi kekayaan kehidupan tumpang sari mereka agar hidup berkecukupan secara berkelanjutan itu, kelak diwariskan.
Oleh M. Hari Atmoko
Editor:
Edhy Susilo
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.