Aksi 1.001 pembatik di Malioboro menumbuhkan kecintaan anak muda pada batik
Sabtu, 3 Oktober 2026 20:13 WIB
Para pembatik yang terbagi beberapa kelompok, sedang menggambar pola sesuai tema dalam aksi "Simfoni 1001 Pembatik" di Jalan Malioboro Yogyakarta, Sabtu (3/10/2026). Aksi yang diikuti 1001 peserta ini dalam memperingati Hari Batik Nasional dan HUT ke-270 Kota Yogyakarta. ANTARA/Agustiano Fernando Pepo
Yogyakarta (ANTARA) - Aksi bertajuk "Simfoni 1001 Pembatik 2026" yang digelar di kawasan Jalan Malioboro Kota Yogyakarta pada Sabtu (3/10) dalam rangka memperingati Hari Batik Nasional tersebut dapat menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap batik.
"Saya lihat banyak sekali anak-anak muda yang ada di sekitar kita kali ini, artinya mereka juga sudah mempunyai rasa kepemilikan terhadap batik," kata Kepala Badan Standardisasi dan Kebijakan Jasa Industri Kementerian Perindustrian Emi Suryandari pada pembukaan aksi 1.001 pembatik di Yogyakarta, hari ini.
Menurut dia, keterlibatan anak-anak muda dalam agenda budaya tersebut menjadi bukti nyata tumbuhnya rasa kepemilikan generasi penerus terhadap batik tradisional, sehingga dia mengajak generasi muda untuk mencintai batik asli Indonesia.
"Saya sangat ingin anak-anak muda yang ada di sekitar panggung ini, tolong cintai batik asli Indonesia. Karena kalau tidak, maka budaya ini tidak akan ada yang melestarikan," katanya.
Pihaknya juga mengajak generasi mudah dan masyarakat pada umumnya agar menjadikan batik bukan hanya sebagai warisan masa lalu, tapi warisan yang terus hidup, berkembang, dan berinovasi.
Staf Ahli Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Bidang Ekonomi dan Pembangunan Noviar Rahmat mengatakan aksi membatik massal sepanjang 550 meter dimulai dari Simpang Empat Terang Bulan hingga Monumen Serangan Umum 1 Maret.
Menurut dia, aksi membatik ini sengaja digelar di kawasan Malioboro agar masyarakat luas dan dunia internasional mengetahui Yogyakarta tetap eksis sebagai kota batik dunia.
Ketua Panitia Simfoni 1001 Pembatik 2026 Indah Rahayu Murnihati mengatakan angka 1.001 dipilih sebagai target awal untuk merangkul masyarakat luas agar lebih mengenal warisan budaya batik.
"Saya sampai kewalahan, setiap hari ada yang telepon, bahkan tadi malam masih menginginkan ikut," katanya.
Dia menjelaskan, seluruh peserta membatik kain secara beriringan mengusung tema Sumbu Filosofi Yogyakarta dengan urutan motif mulai dari Gunung Merapi, Tugu, Keraton, Plengkung, Panggung Krapyak, hingga Laut Selatan.
Wakil Ketua Kadin DIY Gunarta Adibrata berharap aksi kolaboratif di pusat perekonomian kota Yogyakarta tersebut dapat terus dikembangkan menjadi agenda tahunan.
"Kadin berharap agar kegiatan semacam ini dapat berkembang dan menjadi agenda budaya dan pariwisata tahunan di Daerah Istimewa Yogyakarta," katanya.
Salah satu peserta aksi 1.001 membatik, Nugraheni mengaku tertantang saat membatik di area publik sekaligus menyoroti beratnya persaingan batik tradisional melawan maraknya batik cetak (printing).
Dia mengatakan, batik tradisional perlu terus didukung karena memiliki pakem serta nilai cerita pada setiap motifnya, bahkan batik Indonesia sudah mendunia, untuk itu kepada anak-anak muda cintailah batik Indonesia.
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Aksi 1.001 pembatik Malioboro tumbuhkan kecintaan anak muda pada batik
Pewarta : Hery Sidik
Editor:
Victorianus Sat Pranyoto
COPYRIGHT © ANTARA 2026