Karhutla mungkin tidak akan pernah hilang sepenuhnya. Namun dengan memanfaatkan teknologi secara tepat, Indonesia memiliki peluang besar untuk beralih dari sekadar memadamkan api menjadi mencegah api sejak awal.
Jakarta (ANTARA) - Setiap musim kemarau, Indonesia kembali berhadapan dengan ancaman klasik: kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Kabut asap tebal menyelimuti permukiman, melumpuhkan aktivitas ekonomi, mengganggu penerbangan, menimbulkan krisis kesehatan, hingga memperluas kerusakan lingkungan.
Meski berbagai upaya pencegahan dan pemadaman telah dilakukan selama bertahun-tahun, karhutla masih menjadi salah satu tantangan terbesar dalam tata kelola lingkungan dan kebencanaan di Indonesia.
Di sisi lain, dunia kini sedang memasuki era Artificial Intelligence (AI). Teknologi yang mulanya populer lewat chatbot atau otomasi industri ini kian cerdas memprediksi bencana, memetakan risiko, hingga mendukung pengambilan keputusan secara real-time. Lantas, bisakah AI menjadi senjata baru Indonesia dalam mengatasi karhutla?
Pertanyaan tersebut menjadi semakin relevan ketika melihat perkembangan terkini. Meskipun kondisi cuaca pada 2025 relatif lebih basah dibandingkan periode El Niño besar sebelumnya, karhutla tetap terjadi di berbagai wilayah Indonesia.
Analisis yang dipublikasikan sejumlah lembaga pemantau menunjukkan sedikitnya 218 ribu hektare lahan dan hutan terindikasi terbakar sepanjang Januari hingga Agustus 2025. Hampir separuhnya berada di area konsesi perkebunan, pertambangan, dan energi. Temuan ini memperkuat dugaan bahwa sebagian besar kebakaran bukan semata-mata dipicu faktor alam, melainkan juga aktivitas manusia.
BNPB juga menegaskan bahwa banyak kasus karhutla di Indonesia berkaitan dengan aktivitas pembukaan lahan dan kelalaian manusia. Di Riau, misalnya, ratusan hektare lahan terbakar pada 2025 dan puluhan tersangka telah ditetapkan dalam kasus kebakaran hutan dan lahan.
Fakta tersebut menunjukkan bahwa tantangan karhutla bukan hanya persoalan pemadaman api ketika kebakaran sudah terjadi. Tantangan yang lebih besar adalah bagaimana mendeteksi risiko jauh sebelum asap terlihat. Di sinilah AI menawarkan harapan baru.
Selama ini sistem pemantauan karhutla di Indonesia telah memanfaatkan satelit melalui platform seperti SiPongi dan pemantauan hotspot BMKG. Sistem tersebut mengumpulkan data dari satelit MODIS dan VIIRS untuk mendeteksi titik panas secara hampir real-time.
Namun AI memungkinkan langkah yang lebih maju. Jika sistem konvensional berfokus pada mendeteksi kebakaran yang sudah terjadi, AI dapat digunakan untuk memprediksi kemungkinan terjadinya kebakaran berdasarkan kombinasi data cuaca, suhu udara, kelembapan tanah, kecepatan angin, kondisi vegetasi, histori kebakaran, hingga aktivitas manusia di suatu wilayah.
Pendekatan ini telah diterapkan di sejumlah negara yang menghadapi ancaman kebakaran hutan. Kanada menjadi salah satu contoh menarik. Setelah mengalami musim kebakaran hutan terburuk dalam sejarah modern pada 2023, berbagai pemerintah daerah dan perusahaan teknologi mulai mengembangkan sistem berbasis AI untuk deteksi dini kebakaran. Salah satunya SenseNet yang menggabungkan kamera pintar, sensor gas, data satelit, dan analitik prediktif. Sistem tersebut diklaim mampu mendeteksi potensi kebakaran hanya dalam hitungan menit, bahkan sebelum asap terlihat jelas.
Baca juga: Peneliti: Deteksi dini berbasis AI dan komunitas perlu cegah karhutla
Baca juga: Megawati minta BMKG belajar dari kebakaran di Los Angeles
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.