Adu Kuat Sentimen Rebalancing MSCI-Inflasi AS: IHSG-Rupiah Terguncang?

2026/08/12

Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan dalam negeri ditutup beragam. Bursa saham menguat, surat berharga negara (SBN) stagnan, sementara rupiah melemah di tengah sentimen rebalancing MSCI dan ketidakpastian geopolitik yang masih mengancam pasar keuangan RI.

Pasar keuangan Indonesia diperkirakan akan masih menghadapi tantangan pada hari ini terutama karena rebalancing MSCI serta sentimen nota keuangan yang akan diselenggarakan pada akhir pekan ini.

Selengkapnya mengenai proyeksi pasar hari ini bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melesat pada perdagangan Rabu (12/8/2026), setelah terkoreksi tajam pada perdagangan kemarin. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), pada penutupan perdagangan pukul 16.00 WIB IHSG berada di level 6.373,85 atau terapresiasi 1,69% dari penutupan sebelumnya.

Nilai transaksi mencapai Rp 17,36 triliun dengan volume perdagangan 32,68 miliar saham dalam 2,07 juta kali transaksi. Sebanyak 474 saham menguat, 185 saham melemah, dan 304 saham masih belum bergerak.

Pada perdagangan kemarin, terpantau asing membukukan net foreign inflow sebesar Rp 725,21 miliar di all market dan mencatatkan net foreign sell di pasar reguler sebesar Rp 482,79 miliar.

Sehingga apabila data ditarik secara year-to-date bursa saham mengalami net foreign outflow sebesar Rp 70,43 triliun di all market dan Rp 95,17 triliun di reguler market.

Sepanjang perdagangan kemarin, IHSG bergerak di rentang 6.272 (+0,08%) hingga titik tertinggi mencapai 6.373 (+1,69%).

Mayoritas sektor perdagangan menguat, dengan kenaikan tertinggi dicatatkan oleh sektor utilitas, teknologi dan barang baku. Sedangkan hanya sektor properti yang tercatat mengalami kontraksi kemarin.

Secara spesifik emiten konglomerat tercatat kompak melesat jelang pengumuman MSCI, khususnya saham-saham yang tergabung dalam Grup Barito milik orang terkaya RI Prajogo Pangestu. 

PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Barito Pacific Tbk (BRPT), dan PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) menjadi tiga emiten yang menopang pergerakan indeks.

Sementara itu, emiten lain yang turut memberikan kontribusi positif adalah PT DCI Indonesia Tbk (DCII), PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT Indosat Tbk (ISAT), PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS), PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR), dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA).

Dari pasar mata uang,  nilai tukar rupiah kembali mengakhiri perdagangan di zona merah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Pelemahan kali ini memperpanjang tekanan terhadap mata uang Garuda dalam dua hari perdagangan beruntun.

Merujuk data Refinitiv, rupiah ditutup melemah 0,20% ke posisi Rp17.865/US$ pada perdagangan Rabu (12/8/2026). Setelah pada perdagangan sebelumnya, rupiah turut terdepresiasi hingga 0,45% ke level Rp17.830/US$.

Tekanan terhadap rupiah membesar dibandingkan posisi pembukaan. Rupiah mengawali perdagangan dengan pelemahan tipis 0,06% di level Rp17.840/US$, kemudian kehilangan 25 poin hingga penutupan.

Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, pada pukul 15.00 WIB terpantau menguat tipis 0,03% ke posisi 99,856.

Pergerakan rupiah masih dipengaruhi sikap hati-hati pelaku pasar menjelang pengumuman inflasi konsumen AS periode Juli pada Rabu waktu setempat. Data tersebut akan menjadi petunjuk terbaru dalam memperkirakan arah suku bunga bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed).

Laporan ketenagakerjaan AS yang lebih lemah dari perkiraan sebelumnya membuka ruang bagi The Fed untuk mempertahankan suku bunga. Namun, risiko inflasi yang masih tinggi membuat pasar belum sepenuhnya menutup peluang kenaikan suku bunga.

Presiden The Fed Chicago Austan Goolsbee mengatakan bank sentral saat ini lebih mencemaskan inflasi yang terlalu tinggi dibandingkan pelemahan pasar tenaga kerja. Pasar kini memperhitungkan peluang sebesar 62% bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga pada September, sedangkan probabilitas kenaikan 25 basis poin berada di level 38%.

Sementara dari sisi Surat Berharga Negara (SBN), imbal hasil obligasi 10 tahun Indonesia mengalami stagnasi. Hal ini mengindikasikan investor tidak ada kecenderungan tertentu dalam membeli obligasi di pasar tersebut.

SBN bergerak ke level 7.226% pada perdagangan kemarin, di mana pada hari sebelumnya imbal hasil SBN 10 tahun terpantau juga ditutup pada level 7.226%