AKURAT.COAsosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) menyoroti rendahnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya asuransi dan keterbatasan data sebagai tantangan dalam memperluas perlindungan keuangan, terutama bagi masyarakat di daerah dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Direktur Eksekutif AAJI, Emira E. Oepangat mengatakan, pengembangan produk asuransi mikro sebenarnya memiliki peluang besar. Salah satunya dengan menyediakan perlindungan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat berpenghasilan harian, seperti pedagang pasar.
Menurut Emira, pedagang yang tidak dapat berjualan karena sakit, misalnya, berpotensi membutuhkan produk asuransi yang memberikan manfaat pengganti pendapatan selama tidak bekerja. Produk tersebut dapat dirancang untuk melengkapi perlindungan kesehatan yang sudah dimiliki masyarakat.
Baca Juga: AAJI Salurkan Rp315 Juta dan 50 Polis Asuransi untuk Korban Gempa NTT
"Misalnya, pedagang pasar, dia tiap hari perlu uang Rp 5 juta untuk beli bahan-bahan bakunya. Jadi kenapa nggak dikasih kredit yang bisa meng-cover Rp 5 juta sehari, kalau misalnya dia besoknya nggak bisa jualan," kata Emira saat ditemui usai acara program ISR “Kebaikan Berkelanjutan” NTT di Jakarta, Senin (19/10/2026).
Emira menilai, kebutuhan tersebut dapat menjadi salah satu peluang pengembangan asuransi mikro di Indonesia. Namun, penyediaan produk yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat membutuhkan dukungan data yang memadai.
Emira menjelaskan, perusahaan asuransi memerlukan data untuk menghitung risiko, menentukan harga produk, serta memperkirakan besaran manfaat yang dapat diberikan kepada nasabah. Tanpa data yang cukup, perusahaan akan kesulitan menyusun produk yang sesuai sekaligus menjaga keberlanjutan bisnisnya.
"Di Indonesia ini kita itu kekurangan data. Karena apa-apa untuk pricing itu diperlukan data. Asuransi nggak bisa ngitung bagaimana dia mau tahu ini nanti bakal rugi atau nggak, berapa pantasnya yang diberikan," ujarnya.
Menurut Emira, data yang dibutuhkan antara lain mencakup tingkat kesakitan dan kematian masyarakat. Data tersebut dapat bersumber dari berbagai institusi, mulai dari Badan Pusat Statistik (BPS), Kementerian Kesehatan, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), BPJS Kesehatan, hingga rumah sakit.
Ketersediaan data tersebut dinilai penting agar perusahaan dapat mengidentifikasi kelompok masyarakat yang membutuhkan perlindungan, sekaligus menyesuaikan produk dengan profil risiko calon nasabah.
Kesadaran Asuransi Masih Rendah
Selain persoalan data, Emira menilai rendahnya kesadaran masyarakat terhadap asuransi juga menjadi tantangan.