Liputan6.com, Lhasa - Selama tiga dekade, jasad yang dikenal dengan julukan "Green Boots" terbaring di antara salju, terlindung di bawah sebuah batu yang menjorok, tidak jauh dari puncak Gunung Everest.
Dikutip dari BBC, Minggu (9/8/2026), sepasang sepatu pendakian berwarna hijau terang yang dikenakan seorang pendaki asal India yang meninggal pada 1996 itu selama bertahun-tahun menjadi penanda mengerikan bagi para pendaki yang menuju puncak tertinggi dunia.
Kini, India tengah mencari tim khusus yang memiliki kemampuan melakukan evakuasi di ketinggian ekstrem untuk menjalankan misi rumit dan berisiko: membawa turun jasad yang diyakini merupakan Dorje Morup.
Morup disebut sebagai salah satu dari ratusan orang yang jasadnya masih tertinggal dan membeku di Gunung Everest. Jika misi tersebut berhasil, jenazahnya diharapkan dapat dipulangkan kepada keluarga dan orang-orang terdekat yang selama ini tidak pernah benar-benar kehilangan harapan untuk membawanya kembali.
"Pada beberapa malam, sebelum tidur, saya berpikir mungkin malam ini akan ada ketukan di pintu. Ketika saya membukanya, dia akan berdiri di sana," kata istri Morup kepada BBC.
"Ketika dia pulang, saya akan bertanya kepadanya: 'Kamu ke mana saja selama bertahun-tahun ini?'"
Bencana Saat Turun dari Puncak
Malam sebelum berangkat mengikuti ekspedisi bersejarah India ke Everest, Morup duduk bersama istrinya di rumah mereka di Ladakh, wilayah yang dikelola India di kawasan Himalaya.
Ia berjanji akan pulang sebagai pahlawan dan membuat negaranya bangga.
"Dia meminta saya menjaga anak-anak dan datang ke bandara untuk menyambutnya ketika pulang," kata Konchak Yangskit kepada BBC di rumahnya.
Morup, yang saat itu berusia 48 tahun dan berpangkat lance naik atau kopral di Indo Tibetan Border Police (ITBP), bukan pendatang baru dalam aktivitas pendakian Himalaya.
Namun, Yangskit mengaku memiliki firasat aneh malam itu.
"Saya bertanya-tanya apakah saya akan pernah melihatnya lagi," ujarnya.
Morup merupakan satu dari enam pendaki dalam ekspedisi ITBP yang berusaha mencapai puncak Everest. Gunung tersebut berada di perbatasan Nepal dan wilayah Tibet yang dikelola China.
Sebagian besar pendaki memilih jalur dari Nepal. Namun, tim Morup ingin mencatat sejarah dengan menjadi ekspedisi India pertama yang mencapai puncak melalui sisi China yang terkenal lebih berbahaya.
Tiga dari enam anggota ekspedisi akhirnya memutuskan kembali karena badai salju. Morup dan dua rekannya, Tsewang Smanla serta Tsewang Paljor, tetap melanjutkan pendakian hingga mencapai puncak setinggi 8.849 meter.
Namun, bencana terjadi saat mereka turun. Badai salju menerjang dan menewaskan ketiganya.
Seperti lebih dari 300 orang yang meninggal di kawasan Everest sejak pencatatan dimulai sekitar satu abad lalu, jasad mereka tetap berada di gunung.
Dua jasad tidak pernah ditemukan. Sementara jasad ketiga, yang dikenal sebagai "Green Boots", telah membeku di salju selama sekitar 30 tahun pada ketinggian 8.500 meter.
Selama bertahun-tahun, "Green Boots" diyakini sebagai Tsewang Paljor, salah satu anggota ekspedisi tersebut.
Namun, kesaksian anggota ekspedisi yang selamat pada 1996 serta lokasi komunikasi radio terakhir para pendaki kini membuat otoritas meyakini bahwa jasad tersebut adalah Morup.
Seorang pejabat ITBP yang berbicara secara anonim karena tidak berwenang memberikan keterangan kepada media mengatakan pakaian dan perlengkapan pendakian yang ditemukan pada jasad tersebut membantu petugas mengidentifikasinya dalam beberapa tahun terakhir.
Sejak saat itu, ITBP mulai merencanakan cara membawa rekan mereka pulang. Identitas Morup nantinya akan dipastikan melalui tes DNA sehingga keluarganya dapat memperoleh kepastian.
"Kami tidak pernah melupakannya. Hanya masalah waktu," kata pejabat ITBP tersebut.