Jakarta, CNN Indonesia --
Kucing menjadi salah satu hewan kesayangan yang banyak dipelihara masyarakat Indonesia. Seiring meningkatnya jumlah pemilik kucing, perhatian terhadap kesehatan dan perawatan hewan juga menjadi hal yang penting.
Berdasarkan studi Royal Canin bersama Kantar pada 2026, sekitar 31 persen rumah tangga di Indonesia telah memiliki hewan kesayangan. Populasi kucing bahkan tercatat sekitar 12 kali lebih besar dibandingkan anjing.
Di antara rumah tangga yang memiliki kucing, sekitar empat dari 10 pemilik diketahui memiliki setidaknya dua kucing. Kondisi ini menunjukkan bahwa semakin banyak masyarakat yang hidup berdampingan dengan kucing sekaligus perlu memahami kebutuhan kesehatan hewan peliharaannya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lantas, penyakit apa saja yang umum dialami kucing di Indonesia?
1. Masalah dermatologi
Masalah kulit atau dermatologi menjadi salah satu gangguan kesehatan yang banyak ditemukan pada kucing. Keluhannya dapat berupa infeksi jamur hingga masalah yang disebabkan oleh kutu.
Kondisi tersebut biasanya dapat terlihat dari perubahan pada kulit dan bulu kucing. Misalnya, kucing lebih sering menggaruk, mengalami kerontokan bulu, muncul area kulit yang kemerahan, atau terdapat perubahan pada kondisi kulit.
Pemilik kucing sebaiknya tidak menganggap masalah kulit sebagai gangguan ringan yang bisa dibiarkan. Selain membuat kucing tidak nyaman, beberapa masalah kulit juga biasanya membutuhkan penanganan khusus dari dokter hewan.
Kebersihan lingkungan tempat tinggal kucing juga perlu diperhatikan. Tempat tidur, kandang, tempat makan, hingga area yang sering digunakan kucing perlu dibersihkan secara rutin.
Pilihan Redaksi
- Kucing Suka Memijat 'Babunya', Tanda Sayang atau Bukan?
- 7 Cara agar Kucing Liar Tidak Buang Kotoran Sembarangan
- Pencinta Anabul Simak Ya, Ini Cara agar Kucing Tidak Mencakar Sofa
2. Gangguan pencernaan
Gangguan pada saluran pencernaan juga termasuk masalah kesehatan yang umum dialami kucing. Gejalanya dapat berupa diare dan muntah.
Perubahan pola makan secara tiba-tiba, makanan yang tidak sesuai, hingga berbagai kondisi kesehatan tertentu dapat memicu gangguan pencernaan. Karena itu, pemilik perlu memperhatikan perubahan kebiasaan makan dan kondisi kucing.
Muntah atau diare yang terjadi sesekali belum tentu menunjukkan penyakit serius. Namun, jika kondisi berlangsung berulang, disertai perubahan perilaku, nafsu makan menurun, atau kucing terlihat lemas, pemeriksaan oleh dokter hewan diperlukan untuk mengetahui penyebabnya.
Pemberian makanan juga sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhan kucing, termasuk usia, kondisi tubuh, serta kebutuhan nutrisinya.
3. Masalah urinary
Masalah kesehatan lain yang perlu diperhatikan adalah gangguan pada saluran kemih atau urinary. Pemilik kucing dapat memperhatikan perubahan kebiasaan ketika buang air kecil sebagai salah satu tanda awal. Misalnya, kucing menjadi lebih sering pergi ke litter box, mengejan ketika buang air kecil, atau justru buang air kecil di tempat yang tidak biasa.
Perubahan tersebut sebaiknya tidak diabaikan. Gangguan saluran kemih dapat menyebabkan kucing merasa tidak nyaman dan pada kondisi tertentu membutuhkan penanganan dokter hewan sesegera mungkin.
Selain memperhatikan perilaku kucing, pemilik juga perlu memastikan kucing mendapatkan asupan air yang cukup serta menyediakan litter box yang bersih dan mudah diakses.
Beda dengan tren masalah kesehatan kucing secara global
Masalah kesehatan yang banyak ditemukan pada kucing di Indonesia memiliki karakteristik yang dapat berbeda dengan negara lain. Menurut Country Head Royal Canin Indonesia Mohamad Yusuf Hasanudin, terdapat perbedaan masalah kesehatan yang menjadi perhatian antara Indonesia dan sejumlah negara lain.
"Di Indonesia ada tiga masalah utama, pertama dermatologi, seperti jamuran dan kutuan. Kemudian gastro, seperti diare dan muntah. Ketiga itu urinary," kata Yusuf.
Sementara itu, di pasar Eropa dan Amerika Serikat, persoalan seperti obesitas dan kesehatan kucing yang memasuki usia lanjut atau ageing lebih banyak menjadi perhatian.
Perbedaan tersebut menunjukkan pentingnya edukasi kesehatan hewan yang disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing wilayah.
Meningkatnya jumlah pemilik hewan kesayangan membuat pengetahuan mengenai kesehatan kucing menjadi semakin penting. Pemilik tidak hanya perlu membawa kucing ke dokter hewan ketika sudah sakit, tetapi juga memahami tanda-tanda perubahan kondisi tubuh dan perilakunya.
Yusuf mengatakan menjaga kesehatan hewan bukan hanya dilakukan ketika hewan sakit, tetapi perlu dimulai sejak dini dengan memahami kebutuhan mereka.
"Menjaga kesehatan hewan bukan hanya tentang merawat saat sakit, tetapi memahami dan memenuhi kebutuhan mereka sejak dini," ujarnya.
Menurut dia, nutrisi yang tepat, edukasi, serta pendampingan dari dokter hewan menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan kucing dan anjing pada setiap tahap kehidupannya.
Bagi pemilik kucing, mengenali tiga kelompok masalah kesehatan tersebut dapat menjadi langkah awal untuk lebih peka terhadap perubahan kondisi hewan peliharaan. Sebab, kucing tidak selalu menunjukkan rasa sakit secara jelas, sehingga perubahan kecil dalam perilaku, pola makan, kondisi kulit, maupun kebiasaan buang air perlu diperhatikan.
(tis/tis)