Elaine Tairio, CNBC Indonesia
07 October 2026 10:10
Jakarta, CNBC Indonesia - China semakin mengukuhkan dominasinya di industri otomotif global.
Dengan produksi mencapai 34,53 juta kendaraan pada 2025, China bukan hanya memimpin jauh dari negara lain, tetapi juga menjadi sumber utama pertumbuhan produksi kendaraan dunia. Lonjakan produksinya bahkan mencapai lebih dari 3 juta unit dalam setahun, menunjukkan semakin kuatnya posisi China sebagai pusat manufaktur otomotif global.
China Makin Dominan, Produksi Tembus 34,5 Juta Unit
Sepanjang 2025, pabrik-pabrik di China menghasilkan 34,53 juta kendaraan, jauh meninggalkan Amerika Serikat yang menempati peringkat kedua dengan produksi 10,24 juta unit.
Tak hanya unggul dari sisi volume, produksi China juga tumbuh 10,4% dibandingkan tahun sebelumnya. Kenaikan tersebut setara dengan tambahan sekitar 3,2 juta kendaraan dalam setahun.
Besarnya tambahan produksi itu bahkan melampaui seluruh kendaraan yang diproduksi Brasil pada tahun yang sama, yakni sekitar 2,64 juta unit.
Jepang menyusul di posisi ketiga dengan produksi 8,41 juta unit, sementara India berada di peringkat keempat dengan 6,49 juta kendaraan.
Tiga negara berikutnya memiliki volume yang relatif berdekatan. Jerman memproduksi 4,15 juta kendaraan, Korea Selatan 4,10 juta unit, dan Meksiko 4,09 juta unit.
Indonesia berada di peringkat ke-15 dunia. Produksi kendaraan nasional mencapai sekitar 1,15 juta unit pada 2025, turun 4,1% secara tahunan.
India Bertahan di Posisi Empat Dunia
India menjadi salah satu negara dengan pertumbuhan produksi cukup tinggi. Produksi kendaraan negara tersebut meningkat 7,9% menjadi 6,49 juta unit pada 2025.
Skala tersebut turut ditopang oleh pasar domestik yang besar. Penjualan kendaraan penumpang di India mencapai 4,49 juta unit, sedangkan sekitar 860 ribu unit dikirim ke pasar ekspor.
Perbandingan tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar permintaan kendaraan India masih berasal dari dalam negeri, sementara pasar internasional memberikan tambahan permintaan bagi industri otomotifnya.
EV China Makin Mendunia
Skala produksi menjadi salah satu faktor yang menopang posisi China dalam industri otomotif global. Sejumlah fasilitas kendaraan listrik terbesar di negara tersebut mampu menghasilkan lebih dari 1 juta kendaraan per tahun.
Volume produksi yang besar memungkinkan biaya fasilitas manufaktur dibagi ke lebih banyak kendaraan. Keunggulan tersebut juga ditopang biaya tenaga kerja yang lebih rendah, dukungan pemerintah, serta rantai pasok baterai yang telah berkembang luas.
Dalam industri kendaraan listrik, penggunaan baterai lithium iron phosphate (LFP) yang berbiaya lebih rendah turut membantu produsen China menawarkan kendaraan dengan harga yang lebih kompetitif.
Kekuatan produksi tersebut semakin merambah pasar internasional. Ekspor mobil listrik China meningkat dua kali lipat menjadi lebih dari 2,5 juta unit pada 2025.
Porsi merek China dalam ekspor tersebut juga semakin besar. Sekitar empat dari lima mobil listrik buatan China yang dijual ke luar negeri merupakan merek China, dibandingkan kurang dari dua dari lima unit pada 2021.
Produksi Amerika Utara Kompak Turun
Di sisi lain, produksi kendaraan di tiga negara utama Amerika Utara bergerak turun secara bersamaan pada 2025.
Amerika Serikat dan Meksiko sama-sama mengalami penurunan produksi sebesar 2,6%, sedangkan produksi Kanada turun lebih dalam sebesar 7,6%.
Jika digabungkan, produksi ketiganya berkurang sekitar 491 ribu kendaraan dibandingkan 2024, setara dengan penurunan 3,1%. Pelemahan tersebut terjadi ketika produksi kendaraan secara global justru meningkat.
Pergerakan ketiga negara tidak sepenuhnya berdiri sendiri. Industri otomotif Amerika Utara memiliki rantai pasok yang sangat terintegrasi, dengan komponen kendaraan dapat beberapa kali berpindah melintasi perbatasan sebelum kendaraan selesai dirakit.
Akibatnya, penurunan aktivitas di sebuah fasilitas perakitan dapat ikut mengurangi permintaan komponen dari pemasok yang beroperasi di negara tetangga.
Pada 2025, industri tersebut juga menghadapi tambahan tarif dan persyaratan pelaporan yang meningkatkan biaya serta proses administrasi dalam rantai produksi lintas negara.
(mae/mae)