CNN Indonesia
Minggu, 23 Agu 2026 19:55 WIB
Jakarta, CNN Indonesia --
Kebakaran hebat melahap habis kawasan Desa Adat Sade di Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), pada Sabtu (22/8/2026) malam.
Bencana ini menghanguskan sedikitnya 129 rumah tradisional Suku Sasak dan berdampak langsung terhadap 320 warga setempat.
Di balik puing-puing sisa kebakaran, permukiman adat Sade menyimpan kekayaan arsitektur tradisional dan tata nilai budaya yang telah diwariskan secara turun-
temurun.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menanggapi musibah tersebut, Pemerintah Provinsi NTB berkomitmen untuk membangun kembali seluruh rumah adat yang hangus. Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal menegaskan bahwa pihak pemprov tengah berkoordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah untuk merancang langkah penanganan darurat dan rekonstruksi kawasan.
Pilihan Redaksi
- Indonesia Borong 20 Penghargaan di ASEAN Tourism Awarding 2023
- Rumah-rumah Adat Sade di Lombok Tengah Kebakaran
- Pemprov NTB Bakal Bangun Lagi Ratusan Rumah Desa Adat Sade yang Hangus
"Saya akan segera berkomunikasi dengan Bupati Lombok Tengah untuk mengambil langkah cepat dan tepat. Nanti kami pikirkan bagaimana merekonstruksi kembali Desa Adat Sade," ujar Lalu Muhamad Iqbal, Minggu (23/8), seperti dilansir Detik.
Kompleks permukiman Desa Adat Sade memiliki tata letak antarrumah yang sangat rapat tanpa sekat menonjol. Pola pemukiman ini mencerminkan prinsip kesetaraan sosial tanpa membedakan status ekonomi warga.
Bangunan tempat tinggal utama Suku Sasak di desa ini dikenal dengan sebutan Bale Tani. Tata ruang Bale Tani terbagi menjadi tiga zona fungsional:
- Bagian Dalam: Digunakan sebagai dapur sekaligus tempat tidur anak gadis.
- Bagian Luar Kanan: Diperuntukkan sebagai kamar tidur orang tua (bapak dan ibu).
- Bagian Luar Kiri: Berfungsi sebagai kamar anak laki-laki sekaligus ruang menerima tamu.
Secara arsitektural, pintu masuk Bale Tani dibuat dengan ukuran relatif rendah. Desain ini sengaja dirancang agar setiap tamu yang masuk harus menundukkan kepala sebagai bentuk penghormatan kepada pemilik rumah.
Atap rumah adat Sade menggunakan susunan alang-alang gajah di atas anyaman bambu. Alang-alang dipilih karena batangnya yang kuat, tahan cuaca ekstrem, serta memiliki daya serap panas yang baik sehingga bagian dalam rumah tetap sejuk. Kemiringan atapnya dirancang khusus untuk mengalirkan air hujan ke bagian depan guna mencegah erosi tanah di area belakang.
Struktur rangka dan dinding memanfaatkan kombinasi tiga jenis bambu-bambu galah, bambu pepit, dan bambu tutul-yang menghasilkan kerangka bangunan ringan namun fleksibel.
Sementara itu, tiang penopang utama menggunakan kayu ulin, kayu timus, dan kayu lipin yang ditancapkan sedalam dua meter ke tanah menggunakan sistem pasak agar tahan guncangan dan bebas hama.
Lantai Bale Tani dibuat dari campuran tanah liat, sekam padi, dan kayu. Keunikan utama dari lantai bangunan ini terletak pada ritual perawatannya yang disebut tradisi belulut, yakni mengepel permukaan lantai menggunakan kotoran kerbau secara berkala.
Meskipun terdengar tidak biasa, campuran kotoran kerbau terbukti secara praktis mampu memperkuat fondasi tanah, menjaga kelembapan lantai, serta berfungsi sebagai pengusir serangga alami. Di samping fungsi fisiknya, masyarakat setempat meyakini tradisi ini dapat menangkal potensi gangguan mistis.
(wiw)