REPUBLIKA.CO.ID, BANDA ACEH, – Sebanyak 123 dokter umum resmi mengikuti orientasi Program Pendidikan Dokter Spesialis, Subspesialis, dan Fellowship Angkatan II Tahun 2026 di RSUD dr. Zainoel Abidin (RSUDZA) Banda Aceh. Kegiatan ini menandai tahap awal pendidikan klinis para peserta di rumah sakit rujukan utama Aceh tersebut.
Direktur RSUDZA, Muhazar Harun, menegaskan bahwa sejak hari pertama, para peserta didik sudah menjadi bagian integral dari sistem pelayanan rumah sakit. Ia menekankan pentingnya kompetensi, integritas, dan keselamatan pasien dalam setiap proses pendidikan.
"Sejak hari pertama berada di RSUDZA, peserta didik adalah bagian dari sistem pelayanan rumah sakit. Setiap keputusan, komunikasi, pencatatan, dan tindakan dapat memengaruhi mutu pelayanan serta keselamatan pasien," ujar Muhazar di Banda Aceh, Minggu.
Prioritas Keselamatan Pasien
Muhazar menjelaskan bahwa para peserta tidak hanya dituntut menguasai ilmu dan keterampilan klinis. Mereka juga wajib memiliki etika, kemampuan komunikasi, empati, serta tanggung jawab profesional dalam memberikan pelayanan kepada pasien.
Sebagai rumah sakit rujukan sekaligus rumah sakit pendidikan utama di Aceh, RSUDZA menjadi tempat para peserta didik menangani berbagai kasus kompleks dengan latar belakang pasien yang beragam. Oleh karena itu, keselamatan pasien harus menjadi prioritas utama dalam setiap proses pendidikan dan pelayanan.
Muhazar meminta para peserta untuk menjalankan tugas sesuai dengan kompetensi dan kewenangan klinis yang dimiliki. Mereka juga diwajibkan mengikuti jenjang supervisi yang telah ditetapkan oleh pihak rumah sakit.
"Meminta bantuan bukan tanda kelemahan, tetapi bentuk profesionalisme dan tanggung jawab kepada pasien," tegasnya, mendorong peserta untuk tidak ragu berkonsultasi jika menghadapi kondisi di luar kemampuan atau kewenangan klinisnya.
Lingkungan Pendidikan yang Aman
Selain aspek klinis, RSUDZA juga menekankan pentingnya menjaga etika, komunikasi, kerahasiaan medis, dan martabat pasien selama masa pendidikan. Pihak rumah sakit berkomitmen menciptakan lingkungan pendidikan yang aman, saling menghormati, serta bebas dari perundungan dan budaya senioritas yang tidak mendidik.
Para supervisor, ketua kelompok staf medis (KSM), konsultan, dan tenaga pendidik klinis diminta untuk memberikan bimbingan secara konsisten, adil, dan manusiawi. Di sisi lain, peserta didik diingatkan agar tidak sekadar mengejar jumlah kasus atau pemenuhan buku catatan kegiatan pendidikan.
"Setiap pasien adalah amanah, bukan sekadar objek pembelajaran," kata Muhazar.
RSUDZA bersama Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala (USK) berkomitmen untuk terus memperkuat integrasi antara pendidikan, pelayanan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Tujuan akhirnya adalah menghasilkan dokter spesialis dan subspesialis yang kompeten, berintegritas, serta mampu memberikan pelayanan berkualitas tinggi.
Orientasi ini menjadi tahap awal bagi 123 peserta Angkatan II Tahun 2026 sebelum mereka menjalani proses pendidikan klinis secara penuh di RSUDZA.
Konten ini diolah dengan bantuan AI.
sumber : antara