1 dari 8 Kasus Kanker Global Ternyata Bisa Dicegah, Pemicunya Jarang Disadari

2026/10/07

Jakarta -

Sekitar 1 dari 8 kasus kanker di dunia ternyata berkaitan dengan infeksi. Kabar baiknya, sebagian besar infeksi penyebab kanker tersebut sebenarnya dapat dicegah melalui vaksinasi, skrining, maupun pengobatan.

Hal tersebut terungkap dalam penelitian terbaru yang dipublikasikan di jurnal The Lancet Oncology. Peneliti memperkirakan sekitar 2,3 juta kasus kanker baru di seluruh dunia pada 2024 berkaitan dengan infeksi, setara dengan 12 persen dari seluruh diagnosis kanker.

Dua infeksi menjadi penyumbang terbesar, yakni Helicobacter pylori (H. pylori) dan human papillomavirus (HPV). Keduanya secara keseluruhan dikaitkan dengan lebih dari 1,5 juta kasus kanker pada 2024.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

H. pylori terutama berkaitan dengan kanker lambung, sedangkan HPV paling banyak dikaitkan dengan kanker serviks.

"Intervensi bisa dilakukan sebelum infeksi tersebut mendekati kanker," kata Gary Clifford, epidemiolog dari International Agency for Research on Cancer (IARC) sekaligus penulis senior studi tersebut.

Selain H. pylori dan HPV, sejumlah infeksi lain juga berkontribusi terhadap kasus kanker. Hepatitis B (HBV) diperkirakan berkaitan dengan 360 ribu kasus kanker, yang sebagian besar merupakan kanker hati.

Kemudian Epstein-Barr virus (EBV) dikaitkan dengan sekitar 260 ribu kasus, terutama kanker nasofaring. Sementara hepatitis C (HCV) berkaitan dengan sekitar 160 ribu kasus, yang sebagian besar juga merupakan kanker hati.

Peneliti menyebut beban kanker yang berkaitan dengan infeksi tidak tersebar merata di seluruh dunia. Negara berpendapatan rendah dan menengah menyumbang sekitar 77 persen dari seluruh kasus kanker yang dapat dikaitkan dengan infeksi.

Perbedaan tersebut antara lain berkaitan dengan tingginya prevalensi infeksi penyebab kanker serta akses terhadap vaksinasi, skrining, pemeriksaan, dan pengobatan.

Sebagian Besar Bisa Dicegah

Epidemiolog IARC Harriet Rumgay mengatakan langkah pencegahan yang efektif sebenarnya telah tersedia untuk empat dari lima penyebab infeksi utama kanker, serta HIV.

Untuk HPV dan hepatitis B, misalnya, tersedia vaksin. Sementara untuk H. pylori dan hepatitis C, tersedia pemeriksaan dan pengobatan.

Namun, memiliki infeksi yang berkaitan dengan kanker bukan berarti seseorang pasti akan mengalami kanker.

"Memiliki infeksi penyebab kanker tidak berarti seseorang akan mengembangkan kanker. Infeksi tersebut meningkatkan risiko kanker tertentu, tetapi sebagian besar orang yang terinfeksi tidak akan pernah mengalami kanker," kata Veronika Fedirko, profesor epidemiologi di University of Texas MD Anderson Cancer Center, yang tidak terlibat dalam penelitian.

Kanker biasanya baru berkembang pada sebagian kecil orang, terutama ketika infeksi menetap selama bertahun-tahun dan disertai faktor lain seperti usia, kondisi sistem imun, merokok, faktor genetik, maupun paparan lainnya.

Peneliti menilai temuan ini menunjukkan pentingnya pencegahan. Vaksinasi, pemeriksaan dan pengobatan infeksi yang berisiko menyebabkan kanker, serta skrining untuk mendeteksi perubahan prakanker dapat menjadi langkah untuk menurunkan risiko kanker.

Misalnya, hepatitis C dapat dideteksi melalui pemeriksaan dan kemudian diobati. Penanganan tersebut dapat membantu mencegah kanker berkembang di kemudian hari.

Hal serupa berlaku pada H. pylori. Bakteri tersebut dapat menyebabkan peradangan kronis pada lambung dan menjadi salah satu faktor risiko utama kanker lambung. Pengobatan dengan antibiotik dapat menurunkan risiko tersebut.

HPV juga menjadi salah satu contoh bagaimana vaksinasi dapat berperan dalam mencegah kanker. Infeksi HPV tertentu dapat menyebabkan kanker serviks, anus, penis, vagina, vulva, serta kanker orofaring.

"Penelitian baru ini mengajarkan pentingnya vaksinasi dan bagaimana vaksinasi dapat mencegah berbagai jenis kanker," kata Nancy Lee, ahli onkologi radiasi dari Memorial Sloan Kettering Cancer Center.

Selain vaksinasi dan pengobatan, pencegahan penularan infeksi juga dapat dilakukan melalui praktik penyuntikan yang aman, penggunaan kondom, serta profilaksis HIV sebelum pajanan (PrEP).

Peneliti menilai jika berbagai strategi pencegahan tersebut diterapkan secara luas dan merata, ratusan ribu hingga jutaan kasus kanker di masa depan berpotensi dapat dicegah.

Halaman 2 dari 2

(naf/naf)